(beirtasiber.co.id) – Gubernur Banten Andra Soni bersama Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 segera menggagas pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap kerja. Ada dua SMK yang akan dijadikan pilot project atau proyek percontohan di dua Kawasan industri yaitu, di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang dan di Kawasan Industri Sawah Luhur, Kota Serang.
Saat ini, Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 sedang melakukan tahapan feasibility study (FS) di kedua kawasan itu. Pertimbangannya berdasarkan lokasi dan topografi, jumlah anak usia sekolah, jumlah SMK di wilayah sekitar, sampai pertumbuhan perekonomian masyarakat sekitar.
Andra Soni mengatakan, ia bertekad untuk merealisasikan pendidikan vokasi yang terintegrasi antara dunia pendidikan dengan dunia kerja (link and match) yang sudah lama dicita-citakan. Pendidikan vokasi menjadi salah satu upaya untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul serta menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Banten.
“Bagaimana lulusan SMK itu harus benar-benar siap kerja,” kata Andra Soni saat menerima kunjungan para pengurus Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 bersama jajaran pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Provinsi Banten di Gedung Negara, Kota Serang, Kamis (14/5/2026).
Dengan pengalaman yang sudah dilakukan oleh yayasan tersebut di beberapa daerah, Andra Soni yakin pola yang sudah dikembangkan dapat diterapkan di Provinsi Banten. Apalagi Banten dianugerahi lokasi geografis yang strategis, dekat dengan ibu kota dan menjadi daerah lintasan antara pulau Jawa-Sumatera.
Apalagi, saat ini ada sekitar 8.924 industri yang beroperasi di Provinsi Banten mulai dari industri kecil sampai besar. Dengan mengoptimalkan pola pendidikan vokasi bersama Yayasan SMK Mitra Industri, ia berharap ke depan lulusan SMK dapat terserap sebagai tenaga kerja yang andal dan profesional.
Sementara, Ketua Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 Darwoto mengatakan, program unggulan dari SMK Mitra Industri adalah pendidikan karakter. Pendidikan ini mengajarkan bagaimana peserta didik bisa beradaptasi dengan dunia Industri dengan dibekali berbagai kemampuan dan pengetahuan serta pelatihan-pelatihan yang sudah berbasis industri.
“Kami siap berkolaborasi dengan Pemprov Banten dalam menyiapkan SDM yang unggul,” katanya.
Berdasarkan pertimbangan yang dilakukannya, kedua lokasi yang akan dijadikan percontohan SMK vokasi itu masih terbuka, namun berada dalam kondisi persaingan yang cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah siswa SMA dan SMK yang lebih besar dibandingkan lulusan SMP, sehingga terjadi kompetisi dalam memperoleh peserta didik.
Selain itu, SMK yang berada di sekitar Kawasan itu menurutnya juga belum sepenuhnya mendukung kebutuhan industri. Misalnya di kedua kawasan industri masih didominasi oleh SMK dengan jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Padahal 25 industri modern Cikande itu metal works (pekerjaan terkait logam) dan industri manufaktur di kawasan industri Kasemen.
“Untuk itu, sebaiknya jurusan yang dibuka di SMK itu lebih kepada kebutuhan tenaga kerja di industri, seperti manajemen logistik, teknis pengelasan, teknis mekatronika dan teknis pemesinan,” katanya.
Menurutnya, sebagai penyelenggara pendidikan vokasi, ada dua pilihan mekanisme kerja sama antara Yayasan dengan Pemprov Banten. Misalnya, kemitraan partnership dan kolaborasi sebagaimana yang tertuang dalam Permendikbud nomor 36 tahun 2014 tentang Pedoman Pendirian, Perubahan, dan Penutupan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Misalnya, di Mojokerto kita melakukan kerja sama partnership. Artinya bangunan dan izin serta semuanya itu milik sekolah. Kita yang mengoperasikan oleh guru dan kepala sekolah yang kita miliki. Sementara di Deltamas itu kolaborasi. Artinya yayasannya ada bersama timnya juga, namun ada kerja sama kurikulum dan supervisi,” jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten Jamaludin menambahkan, ada beberapa pekerjaan rumah yang menjadi perhatian mengenai hal ini. Pertama adalah upaya penurunan angka putus sekolah. Hal tersebut sudah diupayakan melalui Program Sekolah Gratis di negeri dan swasta. Kedua terkait dengan penurunan TPT yang justru banyak disumbang oleh lulusan SMK.
Kemudian terkait dengan jurusan SMK yang sudah jenuh, Jamaludin mengaku hal itu bisa dilakukan penyesuaian dengan kebutuhan industri. Sehingga, setiap siswa yang diluluskan dari SMK itu benar-benar siap kerja.
“Oleh karena itu, dengan adanya kolaborasi bersama Yayasan SMK Mitra Industri ini, saya optimis pekerjaan rumah ini bisa terselesaikan,” katanya.


