SERANG, (beritasiber.co.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-XXI Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) yang berlangsung di Kota Serang pada 11-13 April 2026, peta dukungan terhadap bakal calon Ketua Umum mulai mengerucut. Salah satu deklarasi paling strategis datang dari Dewan Pimpinan Wilayah Generasi Muda Mathla’ul Anwar (DPW GEMA MA) Provinsi Banten, yang secara resmi menyatakan sikap politik organisasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua DPW GEMA MA Banten, Apt. Irwandi Suherman, S.Far, dengan tegas mengumumkan dukungan penuh kepada Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA untuk memimpin PBMA periode 2026-2031. Deklarasi yang disampaikan di tengah dinamika pra-muktamar ini bukan sekadar seremonial, melainkan hasil kajian mendalam atas rekam jejak dan kapasitas multidimensi tokoh yang juga dikenal sebagai anggota DPR RI dan diplomat parlemen dunia tersebut.

“Kami tidak sedang mencari pemimpin populer sesaat. Kami membutuhkan nahkoda yang mampu membawa Mathla’ul Anwar melompat di era disrupsi. Sosok Dr. KH. Jazuli Juwaini adalah satu-satunya figur yang secara objektif menyatukan tiga kriteria mutlak seorang pemimpin transformasional: kompeten ilmunya, terkoneksi dengan jaringan global, dan berkomitmen total pada khittah serta ideologi Mathla’ul Anwar,” ujar Irwandi dalam pernyataan resminya yang diterima media, Selasa (2/4).

Irwandi kemudian menarasikan secara panjang lebar setidaknya empat profil utama yang menjadi alasan strategis mengapa Jazuli Juwaini layak membawa organisasi yang lahir dari semangat tajdid (pembaruan) ulama pesantren ini untuk melompat lebih jauh, bahkan ke pentas internasional.

*Ulama yang Juga Intelektual Global – Perpaduan Langka di Tengah Pusaran Perubahan*

Menurut Irwandi, tantangan utama organisasi massa Islam seperti Mathla’ul Anwar saat ini bukan hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga melakukan inovasi (ibda’) yang berani. Di era digital yang serba terdisrupsi, ditengah pusaran geopolitik yang tidak pasti, serta menghadapi generasi milenial dan Gen-Z dengan karakter unik, kepemimpinan monodimensi tidak akan cukup.

“Pak Jazuli adalah sintesis sempurna antara kearifan tradisional dan visi modern-global,” tegas Irwandi. Ia menjelaskan bahwa Jazuli Juwaini tumbuh sebagai santri tulen yang menguasai ilmu alat seperti Nahwu (Alfiyah Ibnu Malik) dan Sharaf sejak dini. Fondasi keislaman yang kokoh ini menjadi ‘ruh’ yang tidak boleh hilang dari kepemimpinan MA. Namun di saat yang sama, ia meraih gelar doktor dalam Manajemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Negeri Jakarta, melengkapi dua gelar magister dan pendidikan S1-nya di Arab Saudi.

“Beliau bukan hanya ulama yang fasih kitab kuning, tapi juga akademisi produktif dengan lebih dari 20 buku yang ditulis. Bahkan, pengakuan internasional datang berupa undangan memberi kuliah di Universitas Kyoto (Jepang), serta forum-forum cendekiawan di Istanbul dan Malaysia. Beliau juga memimpin Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM), yang membuktikan kemampuannya mengelola organisasi profesi penuh kaum intelektual. Ini modal besar untuk membawa MA ke panggung dunia,” paparnya panjang lebar.

*Diplomat Parlemen dengan Jaringan Global – Aset Tak Ternilai bagi MA*

Tak hanya kapasitas intelektual dan keulamaan, Irwandi menyoroti aspek lain yang dinilai paling langka: pengalaman Jazuli sebagai negarawan dan diplomat parlemen kelas dunia. Ia menilai bahwa tidak semua tokoh organisasi kemasyarakatan memiliki akses dan pengaruh di panggung internasional seperti yang dimiliki Jazuli.

“Di parlemen, kinerja beliau melampaui urusan konstituen semata. Beliau adalah anggota DPR RI yang sekaligus menjadi Utusan Tetap Parlemen Dunia (IPU) untuk Timur Tengah. Ini bukti kepercayaan internasional yang luar biasa, karena jabatan ini menuntut pemahaman mendalam tentang konflik geopolitik yang sensitif sekaligus kemampuan menjadi juru damai,” jelas Irwandi.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Jazuli juga menjabat sebagai Wakil Presiden Forum Anggota Parlemen Muslim Dunia (IFIP) dan Presiden Justice and Democracy Forum Asia Pasifik. Dalam kapasitas ini, ia aktif memperjuangkan isu demokrasi, HAM, dan keadilan dalam perspektif Islam. “Jaringan global yang dibangun selama bertahun-tahun ini adalah aset tak ternilai bagi MA. Bayangkan, pesantren-pesantren MA bisa bermitra dengan lembaga pendidikan internasional, ada pertukaran santri, hingga proyek kemanusiaan lintas negara. Ini bukan mimpi jika dipimpin oleh beliau,” papar Irwandi dengan nada optimistis.

*Kader Asli dan Loyalis Ideologis MA – Memahami DNA Organisasi Sejak Kecil*

Salah satu poin krusial yang terus ditekankan Irwandi adalah status Jazuli sebagai “anak kandung” Mathla’ul Anwar. Baginya, ini adalah pembeda fundamental dengan figur-figur lain yang mungkin datang dari luar atau memiliki ikatan yang longgar dengan organisasi.

“Pak Jazuli bukan orang luar. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah MA. Kesempatan studinya ke Universitas Muhammad bin Saud, Arab Saudi, bahkan difasilitasi oleh MA. Darah dan semangat MA mengalir dalam dirinya. Pengalaman organisasi di internal MA juga panjang: beliau pernah menjabat sebagai Ketua Bidang SDM dan Organisasi PB MA, dan kini menjadi Anggota Majelis Amanah,” beber Irwandi.

Menurutnya, latar belakang ini membuat Jazuli tidak perlu waktu lama untuk “mempelajari” organisasi. Ia telah menghidupi denyut nadi, budaya, dan cita-cita MA sejak kecil. “Loyalitasnya bukanlah loyalitas transaksional yang mudah berubah karena posisi. Ini loyalitas ideologis dan emosional yang dalam. Beliau paham betul bahwa MA bukan perusahaan atau partai politik, tetapi sebuah harakah (gerakan) dakwah dan pendidikan yang memiliki jiwa dan misi khusus. Pemahaman mendalam ini akan mencegah segala bentuk penyimpangan dari khittah yang telah digariskan para pendiri,” tegas Irwandi.

*Kerja Nyata di Bidang Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi – Politik sebagai Jihad Pelayanan*

Irwandi juga menyoroti bahwa kepemimpinan harus diukur dari hasil nyata yang dirasakan oleh umat, bukan sekadar retorika. Di sinilah ia menilai Jazuli Juwaini benar-benar membedakan diri. Ia menyebut bahwa Jazuli mempraktikkan politik sebagai jihad siyasi—perjuangan politik yang berorientasi pada pelayanan.

“Fokus beliau pada isu pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi bukanlah sekadar janji kampanye. Buktinya bisa dilihat di lapangan,” ujar Irwandi.

Ia merinci setidaknya tiga bidang konkret. Pertama, di bidang kesehatan. Sebelum menjadi politisi, Jazuli adalah seorang apoteker. Keahlian ini didorong untuk mendirikan pusat layanan kesehatan yang dikelola secara profesional, dilengkapi puluhan armada ambulans, dan penyediaan obat-obatan bagi masyarakat kurang mampu. “Program ini menyelamatkan nyawa dan menjadi ujung tombak layanan sosial,” imbuhnya.

Kedua, di bidang pendidikan. Irwandi memaparkan bahwa Jazuli telah menyalurkan ratusan beasiswa, tidak hanya untuk siswa MA tetapi juga pelajar umum. Ia juga aktif merehabilitasi gedung sekolah dan pesantren yang rusak, termasuk banyak di lingkungan MA. “Komitmen beliau pada pendidikan adalah kelanjutan langsung dari visi para pendiri MA,” katanya.

Ketiga, di bidang pemberdayaan ekonomi. Melalui pendampingan serius, petani dan pelaku UMKM dibantu dengan modal, alat produksi, pelatihan kewirausahaan, hingga akses pemasaran. “Pendekatan beliau bukan sekadar charity (amal) yang membuat orang tergantung, tetapi pemberdayaan berkelanjutan yang menciptakan kemandirian. Model kepemimpinan seperti inilah yang tepat untuk menggerakkan seluruh lini amal usaha MA, dari pesantren, sekolah, hingga lembaga sosial,” tandas Irwandi.

*Menanti Muktamar di Serang dan Lompatan Besar MA*

Dengan seluruh paparan panjang tersebut, Irwandi berharap para anggota muktamar yang akan berkumpul di Kota Serang pada 11-13 April 2026 dapat berpikir jernih dan visioner. Ia mengingatkan bahwa di tengah deru perubahan yang begitu cepat, MA tidak bisa dipimpin dengan pola pikir biasa-biasa saja.

“MA memerlukan seorang nahkoda yang matanya bisa membaca arah angin global, tetapi kakinya tetap berpijak kuat di bumi pesantren dan umat. Kami yakin, masa depan Mathla’ul Anwar yang gemilang, berpengaruh secara nasional, dan diperhitungkan di pentas global, ada di pundak pemimpin seperti Dr. KH. Jazuli Juwaini. Mari dukung beliau untuk memimpin lompatan besar kita bersama,” pungkas Irwandi mengakhiri pernyataannya.

Muktamar ke-XXI Mathla’ul Anwar rencananya akan digelar di Kota Serang, Banten, pada 11-13 April 2026, dan akan menjadi ajang penentuan arah kepemimpinan organisasi untuk lima tahun ke depan. (*)